Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Suatu hari, ketika membongkar kardus yang berisi buku-buku di dalam kamar Bapak saya, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya “kaget”. Buku dengan sampul berwarna hitam ini adalah buku yang sudah lama saya cari-cari. Bukan karena buku ini adalah buku wajib salah satu mata kuliah di kampus, tetapi karena judulnya yang sangat unik “seratus tokoh paling berpengaruh di dunia”. Buku ini di tulis oleh seorang penulis (non muslim) yang sangat obyektif, di dalamnya terdapat nama seratus tokoh yang berpengaruh terhadap masa depan dunia beserta penghuninya, dan, tahukah anda, siapa tokoh pertama yang paling berpengaruh diantara seratus tokoh tersebut? Dia adalah Muhammad bin Abdullah, Nabi dan Rasul bagi umat Islam sekaligus musuh besar bagi sebagian orang-orang Barat.
Muhammad adalah seorang yang berasal dari suku Quraish, salah satu suku Arab yang tinggal di lingkungan Ka’bah. Saya rasa tidak ada orang yang meragukan bagaimana Muhammad mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia, bisa dipastikan, ada satu detik waktupun yang dilalui oleh penduduk dunia ini, tanpa menyebut namanya (dalam bentuk shalawat, do’a, dan azan). Prestasinya? Muhammad adalah seorang Rasul yang sukses, pedagang yang jujur, kepala keluarga yang adil, dan pemimpin yang luar biasa. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari para ilmuwan, apakah mungkin bangsa Arab menaklukan dunia tanpa nilai-nilai Islam yang telah dibawa oleh Muhammad? Rumus dan teori apa yang dibawa oleh Muhammad untuk membawa Arab menguasai dunia?, dan apakah mungkin, bangsa yang pada awalnya tidak diperhitungkan oleh bangsa-bangsa besar dunia pada waktu itu, sebut saja (Romawi, Persia dll), bisa menjadi kiblat dunia, sebuah keberhasilan yang sampai saat ini masih menjadi bahan obrolan dan diskusi masyarakat dunia, baik muslim maupun non muslim.
Saya membersihkan buku yang sudah lama tersimpan itu dengan kain, lalu perlahan saya buka dan saya baca isinya (walaupun buku itu sudah pernah saya baca sebelumnya). Sebagai seorang mahasiswa dan alumni pesantren, ada pertanyaan yang mengganjal di dalam pikiran saya, pertanyaan sederhana yang mungkin dianggap sebagai “stupid question” bagi sebagian orang. Apakah mungkin seorang Rasulullah yang tidak bisa menulis dan membaca bisa menjadi pemimpin dunia yang sukses?, sedangkan dia tidak pernah belajar ilmu manajemen, ilmu politik, dan tidak tahu tentang minyak bumi yang ada di bawah tanah Arab. Kalau memang Rasulullah bisa, berarti… kemajuan suatu bangsa tidak tergantung kepada sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya, kalau Rasulullah bisa, berarti…. kemajuan bangsa tidak tergantung harta dan ilmu mereka. Kalau begitu, tergantung apa? Apa rahasianya? Apa kuncinya? Pertanyaan-pertanyaan bodoh ini menghantui pikiran saya, sampai saya menemukan sebuah buku tipis di kardus yang sama. Buku tipis itu berjudul al-mukhtatofaat yang artinya kata-kata mutiara.
Buku tipis itu adalah buku yang menghimpun kata-kata mutiara yang penuh hikmah dari tokoh-tokoh muslim, termasuk Rasulullah SAW. Mata saya tertuju pada sebuah kata mutiara dari Rasulullah kepada umatnya, dengan terbata-bata saya baca kata mutiara itu…”hai umatku, sesungguhnya kalian memiliki rambu-rambu di dalam hidup, maka patuhilah rambu-rambu itu. Dan, sesungguhnya kalian memiliki tujuan di dalam hidup, maka gapailah tujuan itu”. Dua nasehat sederhana dari Rasulullah, mematuhi rambu-rambu hidup, dan menggapai tujuan hidup. Untuk nasehat pertama, saya tahu rambu-rambu itu apa, rambu-rambu hidup yang di maksudkan oleh Rasulullah itu adalah mungkin hukum yang lima (halal, haram, makruh, mubah, dan sunah). Perlahan-lahan saya mulai berpikir apakah ini kunci sukses Rasulullah membawa bangsa Arab menjadi bangsa yang sukses. Dengan mengajak seluruh individu untuk mematuhi rambu-rambu hidup, sehingga masing-masing dari individu tahu dan paham dengan yang haram, lalu menjauhinya, paham dengan yang halal, lalu mengerjakannya, paham dengan yang sunah, lalu menyegerakannya. Subhanallah, apabila sebuah negeri memiliki masyarakat yang sadar akan kelima rambu-rambu itu, pasti negeri itu menjadi negeri yang makmur dan damai.
Pikiran saya lalu membayangkan bagaimana kalau seluruh elemen masyarakat Indonesia mengikuti saran Rasulullah ini, tentu tidak akan ada lagi pejabat yang makan uang haram (korupsi), penegak hukum yang makan uang haram, dan tentunya wakil rakyat yang makan uang haram. Kita (Indonesia) masyarakat besar yang layak untuk hidup damai dan sejahtera. Sumber daya manusia kita luar biasa (berapa banyak anak-anak Indonesia yang mendapatkan medali emas di olimpiade sains dan teknologi), sumber daya alam kita juga luar biasa. Hanya saja, mungkin banyak dari penghuni negeri ini yang belum tahu rambu-rambu kehidupan (halal, haram, sunah, makruh, dan mubah). Atau, kalaupun kita tahu, banyak diantara kita yang belum mematuhi rambu-rambu itu. Rambu-rambu yang lima…mungkin itulah kunci keberhasilan seorang Rasulullah membawa bangsa Arab dari bangsa yang tidak diperhitungkan, menjadi bangsa yang dikenang dan berpengaruh di dunia. Sebagai Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya kita peka dan banyak belajar dari Rasul kita. Jadi apakah kita tahu, atau pura-pura tidak tahu, atau memang Tuhan telah menutup mata dan hati kita, sehingga kedamaian dan kemakmuran telah diharamkanNya untuk kita, mari bersama-sama mengintropeksi diri, sebesar keinsyafan kita, sebesar itulah keuntungan kita. Wallahu a’lam bi assawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar