Kamis, 02 Februari 2012

PEMUDA NASIBMU KINI


Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat 
Mahasiswa Program Doktor (S 3) Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang

Pemuda merupakan masa peralihan yang menghubungkan antara masa kanak-kanak yang tidak matang ke dewasa yang lebih matang. Corak
peralihan akan membawa pengaruh kepada individu yang mengalaminya. Setiap generasi muda sewajarnya diasuh untuk mempersiapkan dirinya sebagai manusia yang seutuhnya dengan artian menjadi hambaNya dan KhalifahNya.
Arus globalisasi memang sudah tidak dapat ditolak kehadirannya. Globalisasi yang telah merambah kepada semua aspek kehidupan, baik ekonomi, politik, maupun budaya menandakan bahwa orang yang hidup di era ini mau tidak mau harus mampu berkompetisi dalam segala bidang apabila tidak mau tertinggal jauh. Tentu saja, semacam ini merupakan bagian dari tugas dunia pendidikan untuk menyiapkan bagaimana menciptakan SDM yang memiliki kemampuan atau berkompetensi. Jika tujuan pendidikan adalah memiliki arti “suatu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani agar selaras dengan alam dan mayarakat”, sebagaimana diutarakan oleh Ki Hadjar Dewantara, berarti pada era ini bagaimana dunia pendidikan mampu menyiapkan SDM yang dapat mengikuti “arus globalisasi” dalam arti yang positif. Demikian pula, karena globalisasi mengandung pula hal-hal yang negatif, maka lembaga pendidikan di samping juga masyarakat dan keluarga harus mampu membentengi generasi penerus terutama dari pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan norma (agama) sebagai tolak ukur kepribadian atau budi pekerti.
Pemuda warisan bangsa, negara bagi masa depan dan aset yang berharga agar ajaran (norma) agama tetap dihayati dalam kehidupan. Pemuda adalah harapan masyarakat dan negara. Maka penting bagi kita memastikan agar pemuda bersedia untuk membawa panji perjuangan di masa sekarang dan yang akan datang. Pemuda mesti menjadi orang-orang yang bisa diharapkan, bukan saja untuk membina masyarakat dan negara yang maju, tetapi yang lebih penting adalah agar ajaran (norma) agama akan terus menjadi panduan masyarakat. Jika pembentukan generasi muda tidak berlaku dengan sempurna, maka pembangunan negara akan terjejas karena golongan generasi muda bakal menjadi pemimpin pada masa akan datang. “PEMUDA HARI INI PEMIMPIN YANG AKAN DATANG”.
Ketika ini terjadi di kalangan generasi muda amat membimbangkan. Boleh dikatakan keruntuhan akhlak generasi muda bagaikan seiring dengan pembangunan negara. Ini dapat dilihat melalui pembangunan yang hampir kepuncaknya, akhlak generasi muda juga kian jatuh dan bagaikan tidak dapat dibendung lagi sehingga dibutuhkan bimbingan agama. Di antara fenomena yang dapat dilihat pada masa pemuda era globalisasi adalah:
1.      GENERASI PORNOGRAFI
Rasa ingin tahu ditambah besarnya gairah syahwat membuat banyak generasi muda (terutama laki-laki) terperosok ke maksiat. Banyak media yang memuat pornografi. Mulai dari poster, majalah, buku, HP sampai VCD. Pornografi juga memancing kejahatan seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Berapa banyak kasus perkosaan berawal dari nonton VCD porno, sehingga menjadikan generasi muda yang hobi kepada suatu perbuatan onani dan masturbasi.
2.      GENERASI MUSIK
Pemuda sekarang ini lebih menyukai musik jahiliah yang jauh dari ajaran (Moral) agama dan pendidikan. Sehingga pemuda era globalsiasi sekarang ini menjadikan “TUNTUNAN SEBAGAI TONTONAN DAN TONTONAN SEBAGAI TUNTUNAN”.  
3.      GENERASI PENCONTEK
Solusi yang ditempuh oleh para generasi muda untuk mendapatkan nilai tertinggi yang diinginkannya. Perlu diingat bahwa tujuan dari ujian bukan saja untuk menguji apa yang telah diajarkan dalam kelas akan tetapi, “KEJUJURAN MERUPAKAN UJIAN YANG TERTINGGI DALAM DIRI”.
4.      GENERASI TAWURAN
Tawuran pelajar yang terjadi di zaman era globalisasi dijadikan sebagai solusi yang terbaik dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Perlu disadari, bahwa globalisasi sebenarnya paradoks dengan dunia pendidikan atau gejala kontra moralitas. Misalnya, satu sisi pendidik harus mengajarkan bagaimana berpakaian yang sopan, santun, dan tidak mengganggu pandangan mata, akan tetapi di sisi lain perkembangan mode, atau gaya pakaian sudah tidak dapat dibendung lagi, bahkan baik media massa maupun elektronik sudah mengarah kepada kebebasan menayangkan gambar-gambar “porno”. Demikian pula, misalnya, pendidik mengajarkan orang harus berhemat, tetapi budaya konsumtif telah mempengaruhi sebagian besar masyarakat. Inilah tantangan dunia pendidikan yang harus dihadapi dalam rangka membentuk manusia yang berbudi pekerti dan mengutamakan nilai-nilai akhlak dalam perilakunya sebagai tujuan utama.
Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan dibutuhkan kerjasama antara sekolah, keluarga dan masyarakat dalam membina generasi muda yang istiqomah dalam mengemban amanat dari Sang Maha Pencipta yaitu:
1)      Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua sebagai tempat CURHAT yang nyaman untuk anak dalam hal apapun dan tidak mengekang.
2)      Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya.
3)      Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi
4)      Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah.
5)      Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini.
6)      Perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif, karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar