Jumat, 04 Oktober 2013

KHUTBAH JUM'AT Jelang dan pasca I'DIL ADHA


السَّـلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العلَمِيْنَ, نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِى لاَ تُحْصَى وَ لاَ تُعَدّ... دَعَا عِبَادَهُ لِحَجِّ بَيْتِهِ اْلأَمِيْن, وَ قَالَ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْم : "طَهِّرْ بَيْتِىَ لِلطَّائِفِيْنَ وَ الْعَاكِفِيْنَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُوْدِ". أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ حْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُه.ُ اللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى الِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ.   أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ, قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّنْقَوى...
Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ; (Q.S al-Mumtahanah – 4)

SYUKUR
(Q.S Ibrahim – 34)
Sekitar 4 juta jama’ah Haji dari seluruh dunia tengah mempersiapkan diri memenuhi undangan Allah guna menyempurnakan Rukun Islam.
yang diberi kekayaan; telah akan bersyukur dengan haji dan qurban!,  BEGITU JUGA hendaknya yang diberi pangkat dan kedudukan, kesehatan, dan ilmu pengetahuan;
Dalam menyikapi Prosesi Haji dan Qurban; setidaknya mengisya- ratkan 3 hal penting:
1.    Secara Syar’i Haji disepakati oleh Jumhur Ulama Fiqh sebagai salah satu Rukun dalam Islam. Sedang Qurban adalah sunat Muakkadah ; sunah yang amat dituntut atas setiap Muslim yang merdeka, berakal, baligh lagi berkemampuan. Inilah Syariat tanpa bantahan: karena
Prinsipnya adalah: ”TUNDUK DAN PATUH”
 الخضوع و الاقياد  بما جاء به محمد ص.م
2.    Secara Kontekstual berdasarkan tunjauan sejarah umat Islam dituntut untuk meneladani Nabi Ibrahim AS dan keluarganya sebagaimana Firnan Allah:
Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ; (Q.S al-Mumtahanah – 4)
3.     Manusia sebagai makhluq yang berfikir dapat kiranya memahami secara Filosofis tentang ajaran, hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap prosesi haji dan qurban tersebut. Agar kita tidak berhenti sampai simbol-simbol keagamaan.
Karena ada ungkapan yang popeler selalu kita dengar:
الدين عقل, و لا دين لمن لا عقل له
Hal ini dapat dibenarkan dengan diperkuat oleh Firman Allah  
dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Q.S At-Tahrim – 21)
Poin satu telah dibahas oleh khatib kita terdahulu, nah pada jum’at kali ini kita akan coba menyinggung poin 2 dan 3: Agar Hari Raya Qurban tidak berlalu tanpa hikmah dan mau’izhah:
1.    Nabiyyuna Ibrahim telah membangun negeri Arab yang gersang dan tandus menjadi negeri yang aman makmur, dengan keyakinan, kerja keras, dan do’a.
1.    Semenjak Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala buatan ayahnya sendiri. Sambil mengayunkan martil beliau iringi dengan Takbir.
2.    Semangat hijrah sebagaimana yang dilakukan oleh Nab-nabi terdahulu. بلاد االه واسعة فضاء و رزق الله في الدنيا فسيح ...فقل للقعدين غلي...
3.    Pendirian kembali Ka’batullah sebagai sentral pembangunan ummat yang bertauhid.
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Q.S Ali Imran-96)
Bapak-bapak, saudara-saudara, sidang jum’at...
Masjid kita ; secara fisik ; sudah berdiri dengan megah, tinggal bagaimana kita lagi mengisinya dengan pembagunan mental ummat, khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa ini.
Alhamdulillah sarana ummat yang megah ini telah kita manfaatkan dengan untuk pembinaan generasi penerus yang akan mewarisi agama ini nanti.
4.    Selanjutnya Nabiyyuna Ibrahim as. telah memberi contoh pada kita untuk selalu mendo’akan negerinya, keturunannya dan umatnya yang beriman.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Q.S Ibrahim – 35)
Pada ayat lain, do’a beliu berbunyi:
 
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. (Q.S al Baqarah 126)
Menakjubkan sungguh, dengan kekuatan iman, kerja keras dan do’a, Negeri Arab yang tandus telah menjadi negeri yang aman dan kaya raya.
Tentunya kita telah saksikan juga bagaimana perguruan ini telah dibangun kembali setelah porak poranda akibat gempa 4 tahun lalu tentunya ini berkat: keyakinan, kerja keras dan do’a.
5.    Istri Nabi Ibrahim ; Siti Hajar adalah sosok istri taat dan sabar.
Mari kita Ingat kembali ketika Siti Hajar berlari-lari kecil dari bukit Safa ke Marwa. Ini merupakan sebuah usaha melelahkan.
Prosesi sa’i yang melelahkan memberi pelajaran penting bagi kita:
1.    Jumlah 7 kali berbolak-balik dari safa ke marwa: merupakan isyarat bahwa kegagalan dalam itu bisa terjadi 2,3 atau 7 kali. Dan pintu rezeki boleh jadi akan dibukakan Allah lewat perantaraan orang lain.
Air mata Zam-Zam yang sampai hari ini tidak pernah habis-habisnya. DR. MASARU EMOTO, seorang sarjana Yokohama Jepang. hasil risetnya mengenai air yang ditulisnya dalam buku “The True Power of Water.” Beberapa molekul air yang ditelitinya berbentuk tak teratur, kecuali molekul air zam-zam. Susunan molekul air zam-zam sangat terstruktur dan indah, bak berlian yang berkilauan, dan memancarkan lebih dari 12 warna jika dibekukan.

2.    Usaha kerja keras dalam mengejar rezeki yang halal, Sikap mau membanting tulang dan fikiran untuk mencari rezki yang halal merupakan teladan yang dicintai Allah swt.
Rasulullah SAW bersabda dalam Hadist yang sanadnya dari Ali RA - diriwayatkan oleh ad-Dailami :
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ تَاعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ
”Sesungguhnya Allah cinta melihat hambaNya lelah dan bersusah payah dalam mencari yang halal”

Banyak ragam pekerjaan mulia disisi Allah apakah itu bertani, berdagang, beternak, jadi guru, karyawan, buruh, sopir, tukang ojek dan seterusnya, asal diniatkan ibadah ; mencari rezeki yang halal.
عن ابن عباس ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « طلب الحلال جهاد »
Mencari rizki yang halal itu termasuk jihad.

Alangkah mulia seorang pejabat yang jujur, pengusaha yang sholeh, konglomerat yang dermawan, atau pemimpin yang bijaksana, bersahaja dan taat beragama.

Dan alangkah hina manusia yang berladang dipunggung orang atau bersenang-senang diatas penderitaan saudaranya.

6.    Anak Nabi Ibrahim yaitu Ismail as. adalah teladan : anak yang taat pada perintah Allah dan patuh pada orang tua.
Bagi Nabi Ismail kepatuhannya kepada orang tua dalam hal memunaikan perintah Allah adalah diatas segala-galanya.
Agak jarang membudaya hari ini ; anak yang tunduk pada peritah orang tua. Sebagai contoh ”bila anak disuruh shalat”. Namun bagi Isma’il, ”Jangankan untuk disuruh shalat, untuk dikorbankanpun beliau bersedia” karena itu adalah perintah Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".  (Q.S As-Shofaat-102)
Kaum muslimin-muslimat sidang jum’at hamba Allah.....
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ; kian mengalami kemajuan pesat dari waktu ke waktu ; ibarat dua mata pisau ; antara keuntungan kemajuan dan dekadensi moral. Inilah PR besar untuk para orang tua. Kecanduan anak-anak dan generasi kita akan media elektronik dan telekomunikasi sering melalaikan sholat dan memperturutkan syahawat.
Allah ingatkan dalam al-Quran S. Maryam ; 59:
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,
Kewajibannya orang tua adalah memberi nasehat sebagaimana wasiat Rasulullah saw.
مَا مِنْ عَبْدِ يَسْتَرْعَيْهِ الله ُرَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيْحَةٍ إِلَّا لمَ ْيَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Barang siapa yang Allah jadikan pemimpin, tapi tidak pernah memberi nasehat kepada yang dipimpinnya ; niscaya dia tidak akan mencium bau sorga (HR. Muttafaqun ’Alaih)
Bukankah kita orang tua diperintahkan untuk memberi instruksi pada  anak agar mendirikan shalat.
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (Q.S : Thaha – 132:) :
Maka ”wa’mur” disini jelas artinya ”dan perintahkanlah!”, bukan mempersilahkan, atau sekedar membasa-basi.


Mudah-mudahan dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim as, maka masyarakat bertaqwa akan terwujud.

KHUTBAH ke-DUA
Saat hari rmakan dya Qurban: kita akan menyantap daging korban, silahkan makan dagingnya tapi jangan termakan dengan sifat-sifat binatang korban. Ada 3 hewan kurban di kampung kita:
Ø Kambing ; tidak mau mandi, susah diatur : kalau diikat dia ribut, kalau dilepas ia mengganggu, kalau makan makanan yang dilahap hanya pucuk muda saja.
Manusia kambing tidak mau membersihkan dirinya atau sulit mengakui kesalahan.
Ø  Kerbau: makin mandi makin berkubang, yaitu tipe manusia yang gemar mencampurkan yang hak dengan yang bathil.
Ø  Sapi sifatnya cuek : kemana saja mau digiring, asal perutnya berisi, sekalipun ke rumah potong. 
Tipe manusia sapi adalah: Asal perut kenyang hati senang : sekalipun akan digiring ke neraka adalah.
Hal inilah yang disentil Allah dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 179 :

Minggu, 17 Februari 2013

PEMAHAMAN HADIS KONTEKSTUAL



Materi Diskusi:                          FIQH HADIS
v    Fiqhul Hadis: Memahami maksud dari perkataan Nabi,
    " فهم مراد النبي من كلامه
Pemahaman terhadap ucapan. Perbuatan, sifat, ketetapan, dan juga sejarah hidup Nabi SAW yang disampaikan oleh sahabat. 

v  Objek Kajian-nya: adalah segala yang berkaitan dengan hadits. Mulai dari matan hadits,
          sanad hadits  dan pendapat-pendapat ulama mengenai hadits-hadits Rasulullah. 

v  Tujuan-nya:  untuk  menggali  maksud Nabi SAW. yang tertera dalam hadits - hadits yang diriwayatkan oleh para ulama.  Sebab zaman nabi dengan zaman sekarang sangat jauh berbeda. Baik dari segi komplesitas masyarakatnya, ataupun perkembangan pemikiran masyarakat muslim jauh berbeda dengan masa Nabi.

Minggu, 12 Februari 2012

KEBIJAKAN BELUM TENTU BIJAK


Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat/Mahasiswa Program Doktor 
(S 3) Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang
           
Bukan setiap kebijakan itu bisa dikatakan bijak, sebagaimana kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) yang diberlakukan bagi mahasiswa yang lulus bulan Agustus 2012, sebagaiman terdapat dalam Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 disebutkan, pertama; bagi mahasiswa program S-1 untuk syaarat kelulusannya harus memiliki makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Kedua; bagi mahasiswa S-2 harus menulis makalah yang terbit di jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi. Ketiga; bagi para mahasiswa program S-3 harus menulis makalah yang dijurnal internasional.
            Kebijakan yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti boleh saja untuk meningkatkan kualitas sarjana dari suatu perguruan tinggi. Tapi, perlu diingat dan pahami untuk melaksanakan kebijakan tersebut, hendaknya lihat dulu kemampuan para mahasiswa dalam membuat karya ilmiah. Ada beberapa yang perlu diperhatikan sebelum memberlakukan keputusan tersebut kepada para calon sarjana:
1.      Kemampuan para calon sarjana dalam menulis makalah. Kita bukan merendahkan hasil pemikirannya, akan tetapi dengan kemajuan teknologi sekarang ini para mahasiswa dan para calon sarjana, banyak yang hanya sekedar meng-Copy Paste- tugas perkuliahannya dari internet dengan tanpa memahami isi yang dibahasnya dan menganalisa. Jangan sampai kualitas para calon sarjana kita disebut “Sarjana Copy Paste” 
2.   Kemampuan dan kualitas para dosen dalam memberikan bimbingan skripsi, tesis dan disertasi. Kadang-kadang seorang dosen membimbing lebih dari 10 orang mahasiswa dalam satu semester belum lagi keegoan dosen yang sulit ditemui oleh para calon sarjana yang dibimbingnya, ditambah lagi dosen tersebut mengajar bukan hanya satu perguruan tinggi. Sehingga hasil bimbingan dosen tersebut, jauh dari yang diharapkan.
3.   Sarana dan prasarana yang kurang memadai ditiap perguruan tinggi apalagi pustaka. Ada sebagian perguruan tinggi yang jarang menambah buku referensi yang dibutuhkan oleh para mahasiswanya.
Permasalah yang ditimbulkan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) tersebut:
1.      Ajang bisnis baru bagi para pengelola jurnal baik yang belum terakreditasi maupun yang terakreditasi. Jika ini terjadi akan mempengaruhi kualitas isi dari jurnal tersebut. Hanya bagi para calon sarjana yang mampu membayar lebih mahal itu yang lebih cepat diterbitkan, namun sebaliknya jika para calon sarjana yang kurang biaya akan tersingkir sendiri. “Pendidikan Bukan Hanya Bagi Orang-Orang Berduit”
2.   Jatuhnya mental para calon sarjana. Sebab, jadi persyaratan dalam penyelesaian kuliah, dengan melihat akan kualitas pembimbing. “Kuliah bertahun-tahun hilang dengan jurnal satu kali”.
3.  Munculnya para makelar pembuatan makalah, yang memberikan jaminan bahwa mereka bisa menerbitkan pada jurnal tertentu dengan memberikan beberapa janji. Sehingga bukan kualitas sarjana yang diharapkan dari para calon sarjana akan tetapi para penipu yang berkedok sarjana dengan kualitas yang perlu ditanyakan.
4.   Akan memperlambat proses penyelesaian pendidikan para calon sarjana, karena terkendala pada penulisan makalah yang harus diterbitkan pada jurnal. Apalagi para mahasiswa S-2 dan mahasiswa S-3. Untuk mencari jurnal yang terakreditasi di Indonesia ini sangat sulit. Maka akan menambah beban biaya kuliah, baik dalam pengurusan jurnal, jika belum selesai tepat waktu, waktu dan usia.
Hendaknya, para pengambil kebijakan, berpikirlah, renungkanlah, dan perhatikanlah keputusan yang  ditetapkan. Jangan sampai salah kebijakan yang telah engkau ambil.

Kamis, 09 Februari 2012

MEMILIH PERGURUAN TINGGI DIANTARA KUANTITAS ATAU KUALITAS

Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat dan Mahasiswa Program Doktor (S 3)
Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang

Jangan terlena dengan banyaknya perguruan tinggi, tapi lihat, periksa, tanyakan status perguruan tingginya, apakah terakreditasi/belum, apa akreditasinya, bagaimana output nya banyak berhasil di masyarakat dan dapat mengisi lapangan kerja di dalam masyarakat serta menciptakan lapangan kerja?. Sehingga jangan timbul prasangka “Perguruan tinggi sekarang mengedepankan kuantitas ataukah kualitas?”.