| L |
aitatul qadar adalah malam kemuliaan yang sediakan Allah pada bulan Ramadhan. Malam kemuliaan itu dijelaskan dalam al-Quran jauh lebih baik dari seribu bulan. Kapan saat tepat terjadinya lailatul qadar adalah masalah ghaib dan hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Tak seorangpun manusia yang hidup di dunia ini yang mampu memperkirakan secara pasti kapan datangnya lailatul qadar. Lailatul qadar yang hanya diketahui manusia adalah malam ketujuh belas Ramadhan di mana al-Quran untuk pertama kali diwahyukan Allah. Mengenai lailatul qadar itu sendiri Allah disebutkan dalam al-Quran surat al-Qadar.
إنا أنزلناه فى ليلة القدر- وما أدرك ما ليلة القدر- ليلة القدر خيرمن ألف شهر- تنزل الملئكة والروح فيهابإذن ربهم من كل أمر- سلم هي حتى مطلع الفجر.
“Sesungguhnya Kami sudah menurunkan al-Quran pada malam lailatul qadar. Tahukah kamu apa lailatul qadar itu ?. Lailatul qadar lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadar/97 : 1-5).
Pada ayat di atas Allah hanya sebatas menjelaskan bahwa lailatul qadar adalah malam diturunkannya al-Quran dan lebih baik dari seribu bulan karena ketika itu para malaikat diturun ke bumi dan malam itu penuh kesejahteraan. Dengan kata lain Allah tidak menjelaskan secara pasti pada ayat tersebut kapan waktu datangnya lailatul qadar dan hanya menerangkan keutamaannya.
Angka seribu bulan yang dijelaskan pada ayat itu bukan dimaksudkan sebagai angka matematis melainkan lambang yang menunjukkan jumlah yang tidak terbatas. Mengingat begitu tinggi keutamaan lailatul qadar Nabi Muhammad memberikan panduan kepada umat Islam untuk mencari malam yang mulia itu.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Nabi Muhammad menyebut bahwa lailatul qadar terjadi pada malam-malam ganjil Ramadhan yaitu malam ke-21, 23, 25, 27 dan 29. Itulah sebabnya kenapa beliau mengajak segenap anggota keluarganya untuk memperbanyak amal kebaikan pada malam kesepuluh dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر مئزره وأحيا ليله و أيقظ أهله (رواه البخارى والمسلم).
“Rasulullah SAW bila memasuki sepuluh akhir Ramadhan maka beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dengan amal shaleh dan membangun keluarganya”.
Hadits tersebut menyebutkan bahwa kebiasaan Nabi Muhammad dalam mengisi malam kesepuluh terakhir puasa Ramadhan adalah memberi perhatian yang besar kepada fakir-miskin dan anak yatim, menghidupkan malam Ramadhan dan membangunkan semua anggota keluarga untuk melakukan ibadah kepada Allah.
Kebiasaan Nabi Muhammad tersebut adalah pelajaran berharga bagi umat Islam untuk mengisi malam kesepuluh terakhir Ramadhan yang di antaranya terdapat lailatul qadar adalah. Mereka mesti menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak sedekah, zikir, istighfar, shalat sunnat, membaca al-Quran dan amal kebaikan lainnya.
Untuk mencari lailatul qadar umat Islam dituntut untuk bersikap bijaksana dan mengisi malam kesepuluh terakhir Ramadhan dengan berbagai amal kebaikan, seperti beri’tikaf, membaca al-Quran dan lain sebagainya. Dengan berpedoman pada kebiasaan Nabi Muhammad, umat Islam yang mencari lailatul qadar harus memperbanyak ifak dan sedekah, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap masyarakat yang dihimpit oleh kesulitan hidup.
Kemudian untuk mencari lailatul qadar umat Islam juga dapat melakukan i’tikaf dan tafakkur di mesjid terdekat dari rumah mereka. Selama i’tikaf mereka mampu melakukan berbagai amal shaleh berupa memperbanyak istighfar kepada Allah, berdoa, berzikir, shalat sunnat dan menghitung atau menghisab diri. Nabi Muhammad selalu melakukan i’tikaf pada bulan Ramadhan mulai sejak tahun kedua Hijriyah hingga tahun wafatnya beliau pada tahun kesepuluh Hijriyah. Selama i’tikaf Nabi Muhammad menyendiri di mesjid untuk melakukan zikir, doa dan tadarus al-Quran.
كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله عز وجل ثم اعتكف أزواجه من بعده.
“Adalah Nabi Muhammad SAW ber-i’tikaf pada malam sepuluh terakhir puasa Ramadhan sampai Allah mewafatkannya dan kebiasaan beliau itu diikuti pula oleh isteri-insterinya pada masa berikutnya”.
Kita berharap semoga Allah mempertemukan kita dengan lailatul qadar. Sekurangnya malam kemulian dan penuh berkah itu berlalu ketika kita beribadah kepada-Nya sehingga kita mampu meraih nilai dan pahala yang sangat besar atau lebih baik dari seribu bulan beribadah dari pada kesempatan dan bulan lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar