Sabtu, 28 September 2013
Minggu, 17 Februari 2013
PEMAHAMAN HADIS KONTEKSTUAL
v Fiqhul
Hadis:
Memahami maksud dari perkataan Nabi,
"
فهم مراد النبي من كلامه
Pemahaman
terhadap ucapan. Perbuatan, sifat, ketetapan, dan juga sejarah hidup Nabi SAW
yang disampaikan oleh sahabat.
v
Objek Kajian-nya:
adalah segala yang berkaitan dengan hadits. Mulai dari matan hadits,
sanad hadits dan pendapat-pendapat ulama mengenai
hadits-hadits Rasulullah.
v Tujuan-nya: untuk menggali maksud Nabi SAW. yang tertera dalam hadits -
hadits yang diriwayatkan oleh para ulama. Sebab zaman nabi dengan zaman sekarang sangat
jauh berbeda. Baik dari segi komplesitas masyarakatnya, ataupun perkembangan
pemikiran masyarakat muslim jauh berbeda dengan masa Nabi.
Minggu, 12 Februari 2012
KEBIJAKAN BELUM TENTU BIJAK
Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat/Mahasiswa Program Doktor
(S 3) Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang
(S 3) Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang
Bukan setiap kebijakan itu bisa dikatakan bijak, sebagaimana kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) yang diberlakukan bagi mahasiswa yang lulus bulan Agustus 2012, sebagaiman terdapat dalam Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 disebutkan, pertama; bagi mahasiswa program S-1 untuk syaarat kelulusannya harus memiliki makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Kedua; bagi mahasiswa S-2 harus menulis makalah yang terbit di jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi. Ketiga; bagi para mahasiswa program S-3 harus menulis makalah yang dijurnal internasional.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti boleh saja untuk meningkatkan kualitas sarjana dari suatu perguruan tinggi. Tapi, perlu diingat dan pahami untuk melaksanakan kebijakan tersebut, hendaknya lihat dulu kemampuan para mahasiswa dalam membuat karya ilmiah. Ada beberapa yang perlu diperhatikan sebelum memberlakukan keputusan tersebut kepada para calon sarjana:
1. Kemampuan para calon sarjana dalam menulis makalah. Kita bukan merendahkan hasil pemikirannya, akan tetapi dengan kemajuan teknologi sekarang ini para mahasiswa dan para calon sarjana, banyak yang hanya sekedar meng-Copy Paste- tugas perkuliahannya dari internet dengan tanpa memahami isi yang dibahasnya dan menganalisa. Jangan sampai kualitas para calon sarjana kita disebut “Sarjana Copy Paste”
2. Kemampuan dan kualitas para dosen dalam memberikan bimbingan skripsi, tesis dan disertasi. Kadang-kadang seorang dosen membimbing lebih dari 10 orang mahasiswa dalam satu semester belum lagi keegoan dosen yang sulit ditemui oleh para calon sarjana yang dibimbingnya, ditambah lagi dosen tersebut mengajar bukan hanya satu perguruan tinggi. Sehingga hasil bimbingan dosen tersebut, jauh dari yang diharapkan.
3. Sarana dan prasarana yang kurang memadai ditiap perguruan tinggi apalagi pustaka. Ada sebagian perguruan tinggi yang jarang menambah buku referensi yang dibutuhkan oleh para mahasiswanya.
Permasalah yang ditimbulkan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) tersebut:
1. Ajang bisnis baru bagi para pengelola jurnal baik yang belum terakreditasi maupun yang terakreditasi. Jika ini terjadi akan mempengaruhi kualitas isi dari jurnal tersebut. Hanya bagi para calon sarjana yang mampu membayar lebih mahal itu yang lebih cepat diterbitkan, namun sebaliknya jika para calon sarjana yang kurang biaya akan tersingkir sendiri. “Pendidikan Bukan Hanya Bagi Orang-Orang Berduit”
2. Jatuhnya mental para calon sarjana. Sebab, jadi persyaratan dalam penyelesaian kuliah, dengan melihat akan kualitas pembimbing. “Kuliah bertahun-tahun hilang dengan jurnal satu kali”.
3. Munculnya para makelar pembuatan makalah, yang memberikan jaminan bahwa mereka bisa menerbitkan pada jurnal tertentu dengan memberikan beberapa janji. Sehingga bukan kualitas sarjana yang diharapkan dari para calon sarjana akan tetapi para penipu yang berkedok sarjana dengan kualitas yang perlu ditanyakan.
4. Akan memperlambat proses penyelesaian pendidikan para calon sarjana, karena terkendala pada penulisan makalah yang harus diterbitkan pada jurnal. Apalagi para mahasiswa S-2 dan mahasiswa S-3. Untuk mencari jurnal yang terakreditasi di Indonesia ini sangat sulit. Maka akan menambah beban biaya kuliah, baik dalam pengurusan jurnal, jika belum selesai tepat waktu, waktu dan usia.
Hendaknya, para pengambil kebijakan, berpikirlah, renungkanlah, dan perhatikanlah keputusan yang ditetapkan. Jangan sampai salah kebijakan yang telah engkau ambil.
Kamis, 09 Februari 2012
MEMILIH PERGURUAN TINGGI DIANTARA KUANTITAS ATAU KUALITAS
Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat dan Mahasiswa Program Doktor (S 3)
Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang
Jangan terlena dengan banyaknya perguruan tinggi, tapi lihat, periksa, tanyakan status perguruan tingginya, apakah terakreditasi/belum, apa akreditasinya, bagaimana output nya banyak berhasil di masyarakat dan dapat mengisi lapangan kerja di dalam masyarakat serta menciptakan lapangan kerja?. Sehingga jangan timbul prasangka “Perguruan tinggi sekarang mengedepankan kuantitas ataukah kualitas?”.
Selasa, 07 Februari 2012
NASEHAT RASULULLAH UNTUK NEGERI YANG TERPURUK
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Suatu hari, ketika membongkar kardus yang berisi buku-buku di dalam kamar Bapak saya, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya “kaget”. Buku dengan sampul berwarna hitam ini adalah buku yang sudah lama saya cari-cari. Bukan karena buku ini adalah buku wajib salah satu mata kuliah di kampus, tetapi karena judulnya yang sangat unik “seratus tokoh paling berpengaruh di dunia”. Buku ini di tulis oleh seorang penulis (non muslim) yang sangat obyektif, di dalamnya terdapat nama seratus tokoh yang berpengaruh terhadap masa depan dunia beserta penghuninya, dan, tahukah anda, siapa tokoh pertama yang paling berpengaruh diantara seratus tokoh tersebut? Dia adalah Muhammad bin Abdullah, Nabi dan Rasul bagi umat Islam sekaligus musuh besar bagi sebagian orang-orang Barat.
Langganan:
Postingan (Atom)


