Minggu, 12 Februari 2012

KEBIJAKAN BELUM TENTU BIJAK


Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat/Mahasiswa Program Doktor 
(S 3) Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang
           
Bukan setiap kebijakan itu bisa dikatakan bijak, sebagaimana kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) yang diberlakukan bagi mahasiswa yang lulus bulan Agustus 2012, sebagaiman terdapat dalam Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 disebutkan, pertama; bagi mahasiswa program S-1 untuk syaarat kelulusannya harus memiliki makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Kedua; bagi mahasiswa S-2 harus menulis makalah yang terbit di jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi. Ketiga; bagi para mahasiswa program S-3 harus menulis makalah yang dijurnal internasional.
            Kebijakan yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti boleh saja untuk meningkatkan kualitas sarjana dari suatu perguruan tinggi. Tapi, perlu diingat dan pahami untuk melaksanakan kebijakan tersebut, hendaknya lihat dulu kemampuan para mahasiswa dalam membuat karya ilmiah. Ada beberapa yang perlu diperhatikan sebelum memberlakukan keputusan tersebut kepada para calon sarjana:
1.      Kemampuan para calon sarjana dalam menulis makalah. Kita bukan merendahkan hasil pemikirannya, akan tetapi dengan kemajuan teknologi sekarang ini para mahasiswa dan para calon sarjana, banyak yang hanya sekedar meng-Copy Paste- tugas perkuliahannya dari internet dengan tanpa memahami isi yang dibahasnya dan menganalisa. Jangan sampai kualitas para calon sarjana kita disebut “Sarjana Copy Paste” 
2.   Kemampuan dan kualitas para dosen dalam memberikan bimbingan skripsi, tesis dan disertasi. Kadang-kadang seorang dosen membimbing lebih dari 10 orang mahasiswa dalam satu semester belum lagi keegoan dosen yang sulit ditemui oleh para calon sarjana yang dibimbingnya, ditambah lagi dosen tersebut mengajar bukan hanya satu perguruan tinggi. Sehingga hasil bimbingan dosen tersebut, jauh dari yang diharapkan.
3.   Sarana dan prasarana yang kurang memadai ditiap perguruan tinggi apalagi pustaka. Ada sebagian perguruan tinggi yang jarang menambah buku referensi yang dibutuhkan oleh para mahasiswanya.
Permasalah yang ditimbulkan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) tersebut:
1.      Ajang bisnis baru bagi para pengelola jurnal baik yang belum terakreditasi maupun yang terakreditasi. Jika ini terjadi akan mempengaruhi kualitas isi dari jurnal tersebut. Hanya bagi para calon sarjana yang mampu membayar lebih mahal itu yang lebih cepat diterbitkan, namun sebaliknya jika para calon sarjana yang kurang biaya akan tersingkir sendiri. “Pendidikan Bukan Hanya Bagi Orang-Orang Berduit”
2.   Jatuhnya mental para calon sarjana. Sebab, jadi persyaratan dalam penyelesaian kuliah, dengan melihat akan kualitas pembimbing. “Kuliah bertahun-tahun hilang dengan jurnal satu kali”.
3.  Munculnya para makelar pembuatan makalah, yang memberikan jaminan bahwa mereka bisa menerbitkan pada jurnal tertentu dengan memberikan beberapa janji. Sehingga bukan kualitas sarjana yang diharapkan dari para calon sarjana akan tetapi para penipu yang berkedok sarjana dengan kualitas yang perlu ditanyakan.
4.   Akan memperlambat proses penyelesaian pendidikan para calon sarjana, karena terkendala pada penulisan makalah yang harus diterbitkan pada jurnal. Apalagi para mahasiswa S-2 dan mahasiswa S-3. Untuk mencari jurnal yang terakreditasi di Indonesia ini sangat sulit. Maka akan menambah beban biaya kuliah, baik dalam pengurusan jurnal, jika belum selesai tepat waktu, waktu dan usia.
Hendaknya, para pengambil kebijakan, berpikirlah, renungkanlah, dan perhatikanlah keputusan yang  ditetapkan. Jangan sampai salah kebijakan yang telah engkau ambil.

Kamis, 09 Februari 2012

MEMILIH PERGURUAN TINGGI DIANTARA KUANTITAS ATAU KUALITAS

Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat dan Mahasiswa Program Doktor (S 3)
Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang

Jangan terlena dengan banyaknya perguruan tinggi, tapi lihat, periksa, tanyakan status perguruan tingginya, apakah terakreditasi/belum, apa akreditasinya, bagaimana output nya banyak berhasil di masyarakat dan dapat mengisi lapangan kerja di dalam masyarakat serta menciptakan lapangan kerja?. Sehingga jangan timbul prasangka “Perguruan tinggi sekarang mengedepankan kuantitas ataukah kualitas?”.

Selasa, 07 Februari 2012

NASEHAT RASULULLAH UNTUK NEGERI YANG TERPURUK

Oleh: Anggi Wahyu Ari
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

            Suatu hari, ketika membongkar kardus yang berisi buku-buku di dalam kamar Bapak saya, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya “kaget”. Buku dengan sampul berwarna hitam ini adalah buku yang sudah lama saya cari-cari. Bukan karena buku ini adalah buku wajib salah satu mata kuliah di kampus, tetapi karena judulnya yang sangat unik “seratus tokoh paling berpengaruh di dunia”. Buku ini di tulis oleh seorang penulis (non muslim) yang sangat obyektif, di dalamnya terdapat nama seratus tokoh yang berpengaruh terhadap masa depan dunia beserta penghuninya, dan, tahukah anda, siapa tokoh pertama yang paling berpengaruh diantara seratus tokoh tersebut? Dia adalah Muhammad bin Abdullah, Nabi dan Rasul bagi umat Islam sekaligus musuh besar bagi sebagian orang-orang Barat.

Jumat, 03 Februari 2012

BERSAUDARA DALAM PERBEDAAN

Oleh: Anggi Wahyu Ari 
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Saya teringat dengan sebuah cerita dari Pak Bambang Pranowo, ketika beliau melakukan kunjungan kerja ke Madura pada tahun 2008. Pada saat makan siang bersama para warga, pak Bambang yang merupakan koordinator staf ahli dari salah satu menteri di Kabinet Indonesia Bersatu menanyakan kepada salah seorang pemuka masyarakat di sana. Pak Bambang   “kira-kira jumlah umat Islam di Madura ini berapa persen pak?”, bapak tadi menjawab “90 persen pak”. Pak Bambang heran, karena informasi yang dia dapat langsung dari warga berbeda dengan data yang tertulis di atas kertas, dengan heran pak Bambang balik menanyakan kepada pemuka masyarakat tersebut, “tapi pak… menurut data yang kami terima, jumlah penduduk yang beragama Islam di sini 98 persen pak”, sang pemuka masyarakat dengan enteng menjawab, “iya pak… soalnya yang 2 persen Kristen, dan yang 8 persen lagi Muhammadiyah” hehehe…

Kamis, 02 Februari 2012

CERDAS BERAGAMA


Oleh: Dr. Akhyar Hanif, M. Ag 
(Direktur Pascasarjana STAIN Batusangkar)
Fakta yang terlihat di hampir sebagian besar umat Islam Indonesia adalah bahwa sikap keberagamaan mereka masih bersifat heredity (keturunan). That because our mom and dad are Moslem we are Moslems (karna bapak dan Ibu kita muslim maka kitapun jadi ikut muslim). Meski belum ada penelitian yang menjelaskan mengenai hal ini, akan tetapi statemen di atas, dalam batas-batas tertentu, memang tak terbantahkan.

PEMUDA NASIBMU KINI


Yusutria, S.Pd.I, MA
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat 
Mahasiswa Program Doktor (S 3) Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang

Pemuda merupakan masa peralihan yang menghubungkan antara masa kanak-kanak yang tidak matang ke dewasa yang lebih matang. Corak
peralihan akan membawa pengaruh kepada individu yang mengalaminya. Setiap generasi muda sewajarnya diasuh untuk mempersiapkan dirinya sebagai manusia yang seutuhnya dengan artian menjadi hambaNya dan KhalifahNya.
Arus globalisasi memang sudah tidak dapat ditolak kehadirannya. Globalisasi yang telah merambah kepada semua aspek kehidupan, baik ekonomi, politik, maupun budaya menandakan bahwa orang yang hidup di era ini mau tidak mau harus mampu berkompetisi dalam segala bidang apabila tidak mau tertinggal jauh. Tentu saja, semacam ini merupakan bagian dari tugas dunia pendidikan untuk menyiapkan bagaimana menciptakan SDM yang memiliki kemampuan atau berkompetensi. Jika tujuan pendidikan adalah memiliki arti “suatu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani agar selaras dengan alam dan mayarakat”, sebagaimana diutarakan oleh Ki Hadjar Dewantara, berarti pada era ini bagaimana dunia pendidikan mampu menyiapkan SDM yang dapat mengikuti “arus globalisasi” dalam arti yang positif. Demikian pula, karena globalisasi mengandung pula hal-hal yang negatif, maka lembaga pendidikan di samping juga masyarakat dan keluarga harus mampu membentengi generasi penerus terutama dari pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan norma (agama) sebagai tolak ukur kepribadian atau budi pekerti.
Pemuda warisan bangsa, negara bagi masa depan dan aset yang berharga agar ajaran (norma) agama tetap dihayati dalam kehidupan. Pemuda adalah harapan masyarakat dan negara. Maka penting bagi kita memastikan agar pemuda bersedia untuk membawa panji perjuangan di masa sekarang dan yang akan datang. Pemuda mesti menjadi orang-orang yang bisa diharapkan, bukan saja untuk membina masyarakat dan negara yang maju, tetapi yang lebih penting adalah agar ajaran (norma) agama akan terus menjadi panduan masyarakat. Jika pembentukan generasi muda tidak berlaku dengan sempurna, maka pembangunan negara akan terjejas karena golongan generasi muda bakal menjadi pemimpin pada masa akan datang. “PEMUDA HARI INI PEMIMPIN YANG AKAN DATANG”.
Ketika ini terjadi di kalangan generasi muda amat membimbangkan. Boleh dikatakan keruntuhan akhlak generasi muda bagaikan seiring dengan pembangunan negara. Ini dapat dilihat melalui pembangunan yang hampir kepuncaknya, akhlak generasi muda juga kian jatuh dan bagaikan tidak dapat dibendung lagi sehingga dibutuhkan bimbingan agama. Di antara fenomena yang dapat dilihat pada masa pemuda era globalisasi adalah:
1.      GENERASI PORNOGRAFI
Rasa ingin tahu ditambah besarnya gairah syahwat membuat banyak generasi muda (terutama laki-laki) terperosok ke maksiat. Banyak media yang memuat pornografi. Mulai dari poster, majalah, buku, HP sampai VCD. Pornografi juga memancing kejahatan seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Berapa banyak kasus perkosaan berawal dari nonton VCD porno, sehingga menjadikan generasi muda yang hobi kepada suatu perbuatan onani dan masturbasi.
2.      GENERASI MUSIK
Pemuda sekarang ini lebih menyukai musik jahiliah yang jauh dari ajaran (Moral) agama dan pendidikan. Sehingga pemuda era globalsiasi sekarang ini menjadikan “TUNTUNAN SEBAGAI TONTONAN DAN TONTONAN SEBAGAI TUNTUNAN”.  
3.      GENERASI PENCONTEK
Solusi yang ditempuh oleh para generasi muda untuk mendapatkan nilai tertinggi yang diinginkannya. Perlu diingat bahwa tujuan dari ujian bukan saja untuk menguji apa yang telah diajarkan dalam kelas akan tetapi, “KEJUJURAN MERUPAKAN UJIAN YANG TERTINGGI DALAM DIRI”.
4.      GENERASI TAWURAN
Tawuran pelajar yang terjadi di zaman era globalisasi dijadikan sebagai solusi yang terbaik dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Perlu disadari, bahwa globalisasi sebenarnya paradoks dengan dunia pendidikan atau gejala kontra moralitas. Misalnya, satu sisi pendidik harus mengajarkan bagaimana berpakaian yang sopan, santun, dan tidak mengganggu pandangan mata, akan tetapi di sisi lain perkembangan mode, atau gaya pakaian sudah tidak dapat dibendung lagi, bahkan baik media massa maupun elektronik sudah mengarah kepada kebebasan menayangkan gambar-gambar “porno”. Demikian pula, misalnya, pendidik mengajarkan orang harus berhemat, tetapi budaya konsumtif telah mempengaruhi sebagian besar masyarakat. Inilah tantangan dunia pendidikan yang harus dihadapi dalam rangka membentuk manusia yang berbudi pekerti dan mengutamakan nilai-nilai akhlak dalam perilakunya sebagai tujuan utama.
Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan dibutuhkan kerjasama antara sekolah, keluarga dan masyarakat dalam membina generasi muda yang istiqomah dalam mengemban amanat dari Sang Maha Pencipta yaitu:
1)      Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua sebagai tempat CURHAT yang nyaman untuk anak dalam hal apapun dan tidak mengekang.
2)      Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya.
3)      Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi
4)      Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah.
5)      Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini.
6)      Perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif, karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.